Jumat, 02 Desember 2011

tahukah kamu tentang poliandri di tibet?

sebuah daerah terpencil di perbatasan China dan Tibet, tinggal sekelompok masyarakat etnik minoritas penganut matriakh dan sekaligus pelaku poliandri yang legal dan sah, suku minoritas tersebut adalah suku Mosuo, yang merupakan suku dari minoritas etnik Naxi, yang juga adalah salah satu dari 55 suku minoritas di China. Sampai sekarang sistem matriakal masih dipraktekkan di suku tersebut.
 
 
 
 
Suku terasing ini tinggal di sekitar wilayah danau Lugu kira-kira 2,700 meter di atas permukaan laut. Danau yang maha indah dan masih sangat perawan ini dikelilingi oleh hutan lebat dan gunung-gunung. Masyarakat yang merupakan tight knit community masih berpegang teguh adat turun temurun selama ribuan tahun. Penduduk Mosuo juga merupakan penganut salah satu sekte agama Budha yang menganggap Lama sebagai pimpinan tertinggi. Lamaism. Peran Lama sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Yang menarik di suku Mosuo adalah peran utama kaum wanita. Peran perempuan di suku Mosuo ini sangat erat dan kental, wanita berperan sebagai kepala rumah tangga yang mengatur segala tetek bengek urusan domestik.  Biasanya di setiap keluarga terdiri dari sepuluh anggota, walau tidak jarang satu keluarga terdiri dari 20 atau 30 orang.
 
Sang kepala keluarga merupakan wanita yang sangat dihormati dan dituakan oleh segenap anggota keluarga. Seluruh keputusan yang berurusan dengan keluarga di tangan sang ibu kepala rumah tangga. Jumlah keseluruhan masyarakat suku Mosuo sekitar 50 ribu orang dan semua tinggal di sekitar danau Lugu. Rumah suku Mosuo sanggat khas dan hampir di setiap rumah mereka menyediakan ruangan khusus sebagai balai pertemuan keluarga atau juga berfungsi untuk ritual-ritual agama. Rata-rata rumah suku Mosuo beratap rendah dan tidak ada ventilasi sama sekali sehingga memberi kesan sangat akrab dan keintiman antar keluarga sangat terjaga .
 
 
 
 
 
Salah satu cahaya yang masuk ke dalam rumah berada di sebuah kamar khusus dimana sebuah perapian selalu menyala dan sebuah altar pemujaan berada. Altar berupa batu ini merupakan simbol leluhur sebuah keluarga. Dipercaya arwah para leluhur masih menempati batu tersebut sehingga api harus tetap menyala untuk menghangatkan mereka para arwah. Api yang dibiarkan terus menyala juga sebagai lambang kesejahteraan suatu keluarga.
 
Kehidupan perkawinan suku Mosuo sangat menarik dan langka, dan saking langkanya, menarik banyak minat para peneliti dari berbagai belahan dunia dan sekitar dua dekade  terakhir membuat nama Mosuo menjadi terkenal di seluruh dunia. Daerah mereka yang perawan nan alami, kini mulai banyak dikunjungi turis dari Amerika, Eropa, dan juga negara-negara Asia lainnya juga masyarkat China sendiri. Perempuan Mosuo masih memegang tradisi turun temurun mereka, salah satunya adalah dalam hal perkawinan, ada tiga jenis perkawinan, yang pertama sistem Axia yang berarti visiting marriage,  kedua adalah : axia cohabitation dan yang terakhir adalah monogamy.
 
Monogamy hanya ada di masyarakat urban suku mosuo artinya mereka yang melakukan pernikahan dengan sistem monogamy adalah mereka yang sudah terpengaruh oleh kaum urban yang datang ke daerah tersebut. Sementara itu, etnik-etnik Mosuo lainnya masih mempraktekkan pernikahan Axia marriage terutama di daerah Yongning dan danau Lugu.
 
Perkawinan Axia adalah perkawinan yang bersifat bebas tanpa ikatan. Kaum lelaki Mosuo menyebut para perempuan mereka Axia yang berarti : teman intim dan para perempuan menyebut kaum lelaki atau kekasih sebagai Azhu. Mereka tidak terikat dengan perkawinan seperti pasangan-pasangan di belahan bumi manapun,  namun mereka tetap  tinggal di rumah sendiri dan biasanya di rumah ibu mereka, sepanjang hayat. Setiap gadis yang sudah dianggap akil balig biasanya mempunyai seorang Azhu. Mereka mempunyai kamar tersendiri dimana sang kekasih bisa berkunjung setiap saat.  Kunjungan rahasia ini dilakukan saat malam hari. Dan keesokan harinya di pagi yang masih buta sang kekasih harus meninggalkan rumah sang gadis.
 
Jika seorang gadis sudah mulai bosan dan tidak ingin melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, sebagai tanda penolakan, dia akan menutup pintu kamarnya atau pintu jendela, dan kekasihnya begitu tahu si gadis menutup pintu, akan berhenti mengunjunginya. Di sini tidak ada ikatan apapun, semua bebas merdeka. Hubungan lebih bersifat mutual dan kasih sayang, keinginan atau hasrat seorang perempuan sangat dihormati. Jika hasil dari cohabitation ini menghasilkan anak, maka anak tersebut akan menjadi milik keluarga sang ibu dan mewarisi nama keluarga si ibu.  Anak ini dibesarkan dan di asuh oleh keluarga besar si gadis dan tidak diperkenalkan dengan ayah kandungnya sampai menjelang upacara akil baliq.
 
Upacara akil balig seorang gadis dilangsungkan ketika seorang anak mencapai usia 13 tahun , dan ritual ini dilakukan saat tahun baru. Di hari yang istimewa ini sang gadis diberi pakaian nan indah dan dihias secantik mungkin, dan juga dihiasi perhiasan-perhiasan tradisional. Upacara ini menandai bahwa seorang gadis sudah dewasa. Dengan kata lain, sang gadis sudah boleh memiliki seorang Azhu atau kekasih. Sebanyak yang dia inginkan...bebas memilih tanpa bebas moral apapun.
  
The Mosuo people are having a festival 
 
 http://www.chinaculture.org/gb/en_curiosity/2004-05/11/content_47041_4.htm
 
Tradisi kuno masyarakat matriakhal di China ini, sangat menarik bagi kaum wisatawan asing, karena dianggap unik dan langka. Terlebih adat istiadat yang menyangkut hubungan antara lelaki dan perempuan Mosuo yang dianggap sangat promiscious, Khususnya bagian dimana para perempuan Mosuo bebas memilih pasangan dan berganti-ganti pasangan seksual, ironisnya daya tarik inilah yang sering disalah gunakan para turis yang ingin mencoba-coba to experience its apparent promiscuity. Suku mosuo dipercaya sudah tinggal di perbatasan Tibet ini  mampu menjaga adat istiadat turun temurun selama ribuan tahun. Ketika sebagian besar masyarakat di China menyia-siakan anak perempuan, Mosuo menempatkan perempuan di kursi tertinggi.
 
Di China yang berlaku pomeo "it is better to have a dog than a daughter" , dan dimana perempuan diperlakukan sebagai masyarakt kelas dua, di Mosuo berlaku sebaliknya. Bahkan mereka bisa berganti-ganti pasangan setiap malam. Dan this is a palce where  women rule the world. Seorang perempuan Mosuo bebas menentukan apakah pasangannya akan langgeng selamanya,atau hanya beberapa tahun, atau beberapa bulan, atau juga hanya beberapa hari atau bahkan hanya semalam saja.
 
Ketika seorang gadis sudah menjalani upacara akil balik, dia akan diberikan sebuah kamar terpisah. Dan ketika malam telah turun, dia akan siap menerima kunjungan sang kekasih, Dulu dengan bahasa isyarat seperti 'meremas' khusus salah satu jari-jari di permukaan tangan menunjukkan bahwa lelaki tersebut boleh mengunjungi sang gadis. Kaum lelaki suku ini yang perannya lebih pasive dari perempuan, tugas nya adalah mencari ikan di danau Lugu. Urusan domestik lainnya adalah urusan perempuan.
 
Menurut pengakuan salah seorang nelayan Ai Le Shan Ma 38 tahun, hubungan walking marriage seperti ini mengurangi stress perkawinan. Sehingga perkawinan model walking marriage sangat menguntungkan. Masih menurut pengakuan Shan Ma, dia  atau lelaki Mosuo lainnya cukup happy hanya bisa mengunjungi sang 'istri' pada malam hari, dia bisa datang kapan saja sesuai dengan suasana hatinya. Semua bebas tanpa beban.  Jika terjadi ketidak cocokan antar pasangan, tiada sakit hati, masing-masing akan mencari pasangan lainnya.
 
Mosuo tidak mengenal istilah zina, anak haram, perawan, janda, rasa cemburu , single mother ataupun monogami. Alasan cukup simple, istilah ini memang tidak ada dan diada-adakan. "Danau Lugu merupakan tanah of free love", tulis seorang explorer Russia Peter Goullart dalam bukunya : Forgotten Kingdom. Ketika sebuah karavan Tibet lewat,  di sebuah desa, para perempuan Mosuo secara bisik-bisik mulai menentukan lelaki mana yang akan dipilih untuk menemani malam yang dingin. Ibu dan anak akan menjamu tamu dan menari untuk menghibur tamu. Setelah itu sang matriakh  yang dianggap sesepuh akan menyuruh lelaki tersebut untuk memilih perempuan mana yang akan menjadi kekasihnya malam itu.
 
Dewasa ini, bukan lagi karavan yang di harapkan melainkan para turis. Dan rupanya sensasi inilah yang menarik para wisatwan untuk datang ke Danau Lugu. Semenjak daerah ini menjadi obyek wisata banyak wisatawan China datang ke Mosuo selain menikmati keindahan alam juga berharap bisa dipilih oleh salah stau gadis Mosuo untuk menemani dinginnya malam secara gratis tis. Di sisi lain,  tidak dapat dipungkiri juga kehadiran turis ke Danau Lugu membantu perekonomian masyarakat  Mosuo. 
 
 
 
 
Seperti daerah-daerah turis lainnya, lambat laun keindahan Danau Lugu tercemar dengan banyaknya turis yang datang, mereka membuang sampah sembarangan. Dan pesona keindahan Danau Lugu semakin pudar dengan arus komersialisasi tempat ini.
 
"By the lake I see piles of plastic bags and beer bottles. I can hardly bear to go home."  Demikian menurut pengakuan seorang entertainer dunia Yang Erche Namu.  Wanita asli suku Mosuo. Namu seorang bekas model dan seorang entertainer yang berdomosili di Beijing adalah produk Danau Lugu asli. Namu yang memulai karirnya sebagai pemenang kontes nyanyi nasional di China, namanya kemduianberkibar di dunia hiburan dunia, terlebih setelah dia berkarier sebagai model. Namu yang pernah tinggal di berbagai dunia  seperti New York, San Fransisco dan Canada saat ini  menikah dengan salah seorang diplomat Norwegia. Konon Namu terang-terangan  pernah melamar presiden Perancis Nicholas Sarvosky sebelum Nicholas menikah dengan Carla Bruni, dalam bukunya Leaving Mother Lake  Namu secara apik dan terkesan lugu, menceritakan secara detail mistik adat istiadat Musuo termasuk upacara akil baliq nya dan saat pertama menantikan sang Azhu, walau kemudian dia menolak Azhu dari lelaki Mosuo, "I don't like them, they smell so bad,"  alasannya.  Karirnya  sebagai model, penyanyi dan entertainer dimulai dari desanya di dekat Danau Lugu. Namu dengan kecantikannya yang khas dan eksotik,  adalah merupakan sosok yang membuat Mosuo menjadi terkenal dan membuat banyak orang yang penasaran.
 
http://en.wikipedia.org/wiki/Yang_Erche_Namu
 
http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/asia/china/1327927/Chinese-men-threaten-lake-of-free-love-where-women-rule.html
 
Bagaimanapun juga kultur masyarakat Mosuo yang seringkali di cap sebagai tempat dimana para perempuan melakukan free sex dan dianggap legal , faktor ini sering di-high light oleh para operator tourism  dan agen wisata untuk menarik para wisatawan khususnya kaum Adam untuk mengunjungi Danau Lugu. Tidak dapat dipungkiri seperti di setiap aspek turisme selalu ada segelintir orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan salah satunya adalah menjadikan sebagai ajang prostitusi, dan Danau Lugu tidak lepas dari masalah ini, walau ironisnya para prostitute tersebut sebenarnya bukan gadis  Mosuo asli  namun tidak lebih merupakan kaum pendatang yang berlaku seolah-olah mereka adalah gadis Mosuo.
 
 
 
Selain masyarakat Mosuo, ada lagi suku minortitas yang mempraktekkan Polyandry, antara lain yaitu suku  Nyinba, sebuah suku ber-etnik Tibet dan berlokasi di Barat daya Nepal. Suku Nyinba mempraktekkan fraternal polyandry. Setiap lelaki yang mempunyai saudara laki-laki menikah secara poliandry dengan perempuan yang sama dan walau demikian hubungan antar saudara tidak menjadi terganggu. Konsep cemburu tidak dikenal. Hanya ikatan kebersamaan total dan rela berbagi. Ladog,  salah satu komuniti Tibet  yang tergolong suku yang makmur, para perempuan umumnya menikah dengan lelaki bersaudara. (Levine 1987). Walau demikian di Ladog, 34.6%  perempuan menikah secara monogamy. Dan sekitar beberapa persen yang menikah dengan beberapa lelaki dalam satu keluarga.  
 
Last but not the least, berbicara masalah adat istiadat tentu kita tidak bisa men-judge perilaku para perempuan di suku-suku tersebut, budaya turun temurun ribuan yang dianggap tidak normal di sebagian besar di dunia, namun merupakan masalah yang normal dan biasa di daerah yang mempraktekkan dan yang mempercayainya.  Yang menjadi masalah adalah penyalah gunaan adat tersebut untuk mengeruk uang sebesar-besarnya dengan mengekploitasi budaya yang bersangkutan, sehingga esensi makna nya menjadi kabur yang akibatnya menimbulkan sebuah stigma ataupun stereotype yang lebih sering condong ke negatif.
 
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar